10 hari tidur bersama tanpa percumbuan tanpa persetubuhan ada tersiksanya ada bahagianya

malam tadi adalah malam kesepuluh
artinya sepuluh malam kita tidur bersama
seatap, sekamar, seranjang
aku manfaatkan kepergian ortu 2 minggu ke jawa
untuk berpindah kamar setiap malam sampai pagi

kau tawarkan padaku untuk menjalani malam bersama
tanpa percumbuan, tanpa petting, tanpa persetubuhan
sebagai syarat bagiku untuk menunjukin bukti
bahwa aku mencintaimu

kau bilang,
“sudahlah, jangan ngomongin cinta dulu
kita memang saling sayang, tante juga sayang kamu
tapi kenapa kamu berpikir jauh bahkan mau menikahiku?
kamu lagi kesengsem sama tante karena sex,
karena mendapatkan pengalaman baru…
sebentar lagi usiku sudah 40
aku sudah betambah tua
kalaupun kita saling cinta
dan kamu taruh kata menikah usia 26
artinya 4 tahun lagi
maka usiaku sudah 42
saat itu aku sudah nggak menarik lagi
aku nggak mungkin memberimu anak
ketika kita jalan bersama aku disangka ibumu
kamu tahu, usia segitu lemakku udah menimbun
tetekku udah mengendur
memekku udah nggak bagus lagi
anusku sudah kendor karena sering kamu masukin
lupakan saja cinta
kamu hanya nafsu
kalau memang kamu sayang dan bisa tanpa sex
cobalah buktikan kita tidur bersama 10 hari…”

malam demi malam berjalan
hanya ada ciuman selamat tidur di bibir sebentar
tak ada rabaanku ke ketiak maupun payudaranya
padahal kamu cuma pakai lingerie sutera tipis
tanpa bra, kadang tanpa celana dalam
jujur kuakui bahwa aku selalu ereksi dan gelisah
dini hari aku ke kamar mandi dan masturbasi
tapi tampaknya kau bisa menguasai diri…

10 hari berlalu
tapi kau tak menyatakan aku lulus ujian
seolah semuanya biasa saja
bahkan sore nanti kau keluar kota
tapi waktu kau mau berangkat
kau bisikkan sesuatu yang nakal,
“kamu pikir aku tahan?
kita belum tulus karena akupun didorong nafsu
selama 10 hari puasa itu
aku empat kali masturbasi di kantor
tiga kali di toilet
sekali di ruang kerjaku sendiri saat sepi…”

ah, nakalnya tanteku ini!
tapi kau benar, kita belum tulus
masih dikuasai nafsu
terutama aku
sehingga tak layak aku bicara cinta

aku tersiksa
tapi juga bahagia
karena berkesempatan berkaca…
terima kasih tante indrianiku
kau memang lebih matang dan dewasa dariku

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: