kau rawat pesonamu dengan cermin berlensa tepat didepan vulvamu

tante, tante…
aku akhirnya tahu sisi paling priabdi dari dirimu
dan mungkin juga wanita lain…
bahwa merawat kecantikan itu tak hanya cukup berkaca
membersihkan wajah, memakai make up, merapikan alis
ke salon untuk facial, creambath, lulur dan pijat
ternyata ada ritual yang menarik…:
kau tarih cermin bolak-balik
yang satu sisi normal, sisi lainnya berkaca pembesar,
tepat didepan kemaluanmu
saat aku tiba-tiba masuk ke kemarmu pagi itu
saat hari libur nasional

kau tak kaget
malah tersenyum, menanya, “kok kaget, sayang?”
lalu kau teruskan kesibukanmu
memandangi pantulan vulvamu pada cermin
kau duduk mengangkang diatas kasur
kau belai jembutmu, kau sisir
kau kuak labiamu, kau tengok isinya yang merekah

“kok gitu tante?”
“iya dong, kalo nggak pake cermin kan nggak bisa..”
“emang setiap cewek gitu, suka bercermin ngeliat kemaluan sendiri?”
“nggak tahu, aku kan nggak pernah nanya…
tapi dari buku kesehatan memang beginilah cara merawat kewanitaan”
“aku boleh liat dari dekat tante?”
“boleh aja. sini…

aku berlutut ditepi ranjang
cahaya dari jendela langsung menerpa selangkangannya
itu pun masih dibantu lampu kamar dan senter
aku mendekat, melihat kemaluan tante
aku pegangi senter
aku amati sesaat
selama ini aku langsung mengoralnya
lebih sering dalam temaram

ternyata begitulah bentuk kemaluan tante
jembutnya hitam lebat sampai mendekati pusar
di pinggir bibir kemaluan ada banyak helai
di pirenium, yaitu antara vagina dan dubur juga tumbuh jembut
kelentitnya tersembuni dibalik kulup kulit berkerut
selama ini aku melihatnya sudah membesar karena terangsang
warna kulup sewarna bibir kemaluan, coklat agak tua
ketika disibak maka bibir kecil pun tampak
warnanya agak kemerahan
ke dalam lagi tampaklah dinding vagina, merah tua

“bagus sayang?”
“iya tante…”
“kamu suka?”
“iya”
“kamu mulai ngaceng kan?”
“iya”
“kamu suka ngebayangin ini ya?”
“iya”
“kalo onani juga ngebayangin memekku ini?”
“iya, tante”
“boleh aku rapiin nggak jembutku? kepanjangan nih…”
“jangan tante…”
“kamu onani mulai umur berapa sih sayang?”
“umur 13. kalau tante?”
“mulai umur 16…”
“tante kehilangan keperawanan umur berapa?”
“ah mau tau aja…”
“sebelum umur 20?”
“huss enggak, saat itu aku masih virgin”
“sebelum umur 25, tante?”
“aku masih perawan umur segitu”
“sebelum 30?”
“masih utuh memekku”
“onani terus dong, tante?”
“iya, malah meningkat”
“jadinya tante kehilangan umur di atas 30?”
“hmmm iya…”
“tepatnya umur berapa? sama siapa?”
“ah mau tahu aja kamu…”
“sakit tante waktu pertama kali?”
“nggak, yah cuma sakit dikit, kan udah terangsang mana masuknya pelan”
“tapi setelah kenal sex onani masih jalan tante?”
“iya dong. manusiawi. normal.”
“tante…”
“sini ciumin memekku, jilatin, sayang…”
aku tak menjawab, langsung menjalankan tugas

akhirnya kami bersetubuh juga

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: