sudah puluhan kali bersanggama kita belum pernah mandi kucing…

alangkah luas peta jelajah erotik di tanganmu, tante
tadi kau bisikkan. “kita belum pernah mandi kucing lho sayang”
waow! menarik juga…

lantas kita beradu jari, siapa dulu yang akan terlayani
tiga kali beradu kau yang menang
sehingga aku harus menjadi kucing duluan
dan baru pada percumbuan mendatang aku yang kau mandikan

malam pukul sepuluh aku sudah dikamarmu
kau pakai lingeri satin pink terusan
wajahmu berbinar semu rona merah
aku tahu kau lagi horny sekali
putingmu sudah mengeras
aku segera telanjang dengan titit menegang
kupeluk kau, kugendong,
lalu kuturunkan didepan kaca rias

aku ciumi tengkukmu, punggungmu, lenganmu
semabri jariku merabai puting yang keras menggelap
kudengar bunyi keletek keletek kontraksi dipinggulmu
kau mulai terangsang hebat
selangkangan lingerie mulai basah
padahal baru segitu aku mencumbumu

kau tetap berdiri
aku mulai jongkok dan berlutut bergantian
aku sibak pantatmu tanpa melepas lingerie terusan itu
aku jilatin pantat itu
aku senggol dengan lidah pirenium berbulu itu
aah nakalnya, kau membungkuk dikit
maka aku julurkan lidah ke anusmu
tubuhmu bergetar menahan nikmat yang menjalar
sekarang kau angkat kaki kananmu
dengan tetap berlutut aku tengadah
menggapai selangkanganmu yang basah
dengan juluran bulu kemaluan meliar itu
lidahku menyentuh labia mayora
kau rendahkan badanmu, lidahku menggapai kelentit
kemaluanmu semakin basah
lingerie itupun semakin kuyub
oleh cairan kewanitaanmu dan salivaku

ketika birahimu mulai meninggi
aku jilatin dan ciumin pahamu
lalu lututmu…
sambil tanganku merabai pantat dan kemaluanmu
kau mulai terengah nikmat
sambil mengaca kau remasi sendiri tetekmu
kau jilati sendiri ketiakmu yang berbulu itu
akhirnya kau tak tahan
kau lepas sendiri tali penggantung lingerie di pundak

lingerie itu langsung melorot ke bawah, jatuh kelantai
kini kau telanjang bulat
sebuah pemandangan indah terpampang

kau turunkan kakimu
kini kau membungkuk dengan tangan bertumpu meja rias
aku cium dan jilatin lagi pantatmu dan pahamu
lalu punggungmu, sehingga kau menggelinjang

lidahku seperti lidas mengeras
kau tahu itu maka kau cium aku
kau lumat aku, kau basahi mulutku
setelah basah lagi aku melanjutkan tugas
menciumi dan menjilati pantat dan punggung

aku bilang pingin tubuh bagian depan
kau berdiri lantas menuju meja hias disudut kamar
kedua tanganmu bertumpu pada meja dibelakang tubuhmu
tubuhmu seperi gendewa terentang
tangan dibelakang menahan tumpuan
kepala agak mendongak
badan menjulur kedepan
kakimu menahan beban
aku tahu kau akan capek dengan posisi seperti itu
maka segera kujilati paha depanmu
lalu turun kelututmu
naik lagi kepangkal paha
kemaluan aku lompati
aku jilatin perut dan pusarmu sehingga kau kegelian
naik lagi kepayudara dan puting
kau sudah gemetar menahan tubuh
tetapi aku terus bekerja
kutarik rambutmu pelan kebawah belakang
ketika kau mendongak penuh kujilatin lehermu
lalu kupingmu kanan dan kiri
aku tahu kau tersiksa dalam nikmat
gemetar menahan tubuh dan jalaran nafsu
tapi tanganmu tak dapat memainkan tetek maupun memek
padahal kau ingin sekali
maka kuusap lembut kemaluanmu
kau gemetar
apalagi saat aku mengecup kelentitmu
akhirnya kau tak tahan hampir jatuh…

kau gandeng aku keranjang
kau langsung tengkurap dibagian pinggir ranjang
aku berlutut ditepi ranjang
menciumi ujung kakimu naik keatas
pantatmu aku jilati, aku cupang
punggungmu aku jilati, aku cupang
lenganmu aku jilati, aku cupang
ujung jari tanganmu aku jilat aku emut
kau tampak bahagia, kadang terpejam
pantatmu kadang kau angkat
lalu tanganmu menyelip ke kemaluanmu
untuk mengobok kelentit dan labia

kau makin terangsang
dari tadi kau larut dalam rambatan nikmat
kau tak berkata-kata sepatahpun
kini kau balikkan badan, telentang
aku ciumi lututmu, pahamu, naik ke perut
kemaluanmu aku lewati padahal aku tahu kau ingin
aku cumi kedua bukitmu dan puncaknya
aku emut jilat cupang
tahu-tahu pahamu sudah mengangkang
tanganmu merabai kemaluanmu seperti masturbasi
aku ciumi lehermu, dagumu, bibirmu…
tanganmu terus memainkan kemaluanmu sendiri
mulanya pelan lembut
lama-lama makin cepat
makin liar
kau mendesah
tiba-tiba kau mencubit pantatku
lalu meremas pantatku
mencakar pantatku
kukumu kurasakan melukai kulitku
saat itulah kau berbisik “aku sampai, sammmmmm-paaaaaiiii”
orgasme lembut telah menjemputmu
aku berdiri
kau raih batangku yang sedari tadi menegang keras
kau remas kau elus penisku
dan… keluarlah maniku
tidak muncrat, tapi menetes,
lalu mengalir seperti pipis yang terputus-putus
jatuh ke lantai cairan kelelakianku itu
aku juga orgasme…

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: